Kristus Sebagai Pusat Penderitaan

Shalom sahabat kekasih dalam Tuhan Yesus, pada artikel ini saya ingin bagikan bahan khotbah kristen tentang KRISTUS SEBAGAI PUSAT PENDERITAAN. Kebenaran Firman Tuhan ini cocok untuk diberitakan kepada Jemaat dalam ibadah Minggu Umum, Ibadah Paskah, atau Ibadah Komsel.

Bahan Khotbah Kristen: KRISTUS SEBAGAI PUSAT PENDERITAAN

Siapakah yang ingin lama-lama memandang dan ada di depanNya? Tidak ada. Kengerian, terburukan, kejelekan saja yang berada di sana. Tuhan menanggung derita? Jawabnya, Ya! Ia dihina, dijauhi orang; Ia seperti sampah, berbau busuk menusuk hidung tiap orang yang hilir mudik di sana, dan mereka terasa terusik dengan hadirnya. Walau sebenarnya di kayu salib itu bergantung Allah yang dengan rendah hati dan penuh kasih sayang menanggung derita untuk penebusan dosa manusia.

bahan kotbah kristen

Bahan Khotbah Kristen tentang pengorbanan Yesus di Kayu Salib

Nas Alkitab: Yesaya 53:1-7

Gambaran tentang kesengsaraan Kristus dalam nubuatan Yesaya benar-benar memilukan dan menyakitkan.

Tak ada satu juga sisi dari hidupnya yang lepas dari kesengsaraan. Kesengsaraan Kristus menjadi benar-benar sempurna sebab ia menanggung derita bukan lantaran Ia bersalah tapi oleh sebab dosa manusia. Kesengsaraan di atas kayu salib benar-benar tak terlintas, tidak terpikir oleh manusia. Dan pada pucuk kesengsaraan itu Dia harus mengatakan satu kalimat yang didengar seperti orang yang patah semangat, “Eli, Eli, lama sabaktani? (BapaKu, BapaKu mengapa Engkau meninggalkan Aku ?)” Yang mustahil terjadi pun terjadi.

Baca: Bahan Khotbah Tentang Bersyukur dalam Segala Hal

Bapa tinggalkan Anak yang tercinta, Anak pisah dari Bapa. Murka Bapa bukan lantaran dosa dan kekeliruanNya tapi karena dosa dan kesalahan yang dipikul atau di tanggungNya. Kitalah yang membuat Ia tersalib.

Kitalah yang membuat Ia menanggung derita. Jika begitu ada, apa yang membuat kita tidak siap menanggung derita untuk Ia?

Penggambaran jika Kristus tidak cakep, tidak meriah, tidak memiliki daya magnet, hingga orang tidak mau menyaksikannya, merupakan satu penggambaran yang paling dekat dan pas dengan keadaan saat Yesus bergantung di atas kayu salib. Siapa yang mau melihatNya? Tidak ada suatu hal yang memikat di situ.

Beseles Ling, seorang penulis banyak buku mengenai kalimat mutiara menjelaskan jika penggambaran mengenai Yesus yang tersalib itu terlampau elok dan sangatlah baik, karena paras di situ tidak dipenuhi dengan bengkak. Darah yang mengalir membasahi semua badanNya, mukaNya yang coreng moreng, bukan lantaran tinta tapi karena luka. Kepala yang tertusuk mahkota duri. Siapakah yang ingin melihatNya? Siapakah yang ingin lama-lama melihatNya?

Siapakah yang ingin lama-lama memandang dan ada di depanNya? Tidak ada. Kengerian, terburukan, kejelekan saja yang berada di sana. Tuhan menanggung derita? Jawabnya, Ya! Ia dihina, dijauhi orang; Ia seperti sampah, berbau busuk menusuk hidung tiap orang yang hilir mudik di sana, dan mereka terasa terusik dengan hadirnya. Walau sebenarnya di kayu salib itu bergantung Allah yang dengan rendah hati dan penuh kasih sayang menanggung derita untuk penebusan dosa manusia.

Seterusnya ditulis jika Ia dipenuhi dengan penderitaan dan memikul semua kesakitan. Ia biasa memikul kesakitan dan penuh penderitaan. Saat ini tolong katakan ke saya, siapa orang yang sanggup memikul semua beban kesengsaraan itu terkecuali Yesus Kristus.

Apa ada orang seperti Ia? Jawabannya adalah “Tidak ada”.

bahan khotbah kristen terbaru

bahan khotbah kristen

Tapi berikut Yesus Kristus Tuhan kita yang dengan penuh kerendahan hati memikul dosa kita. Pada Dia-lah terfokus semua kesengsaraan yang ada. Dia-lah terfokus semua caci karena dosa; padaNyalah terfokus semua noda karena dosa manusia.

Karena pengorbananNya, manusia berdosa serta terhukum yang semestinya musnah oleh kemarahan Allah, jadi tertolong. Kristus sudah gantikan status manusia yang berdosa dan terhukum. Karena dosa sudah mengacau mekanisme tata kehidupan manusia; orang sehat jadi sakit; orang yang lempeng jadi bengkok.

Orang yang semestinya hidup dengan penuh kasih sayang malah jadi sama-sama menghakimi. Orang yang berhimpun diceraiberaikan. Dosa betul-betul sudah mengacau semua mekanisme tata kehidupan manusia. Serta lebih parahnya lagi, kerusuhan itu rupanya tidak stop pada dimensi fisik saja tapi juga merasuk menghancurkan sampai ke dimensi rohani dan relasi sosial manusia. Relasi yang hancur itu bukan hanya relasi di antara manusia dengan sesamanya tapi juga relasi di antara manusia dengan Allah.

Allah tak lagi jadi Tuhan untuk manusia. Manusia ingin mengusung dianya jadi Tuhan. Untuk meluruskan mekanisme ini, Dia harus bayar mahal di atas kayu salib.

Dia memikul murka Allah sebagai tumbal atas dosa manusia. Dia ditikam, dihancurkan. Lambungnya ditusuk oleh tombak.

Semua badan merasakan cedera. Belum juga jiwaNya yang hancur lebur dan terolok-olok oleh pengkhianatan Yudas dan penyanggahan Petrus dan beberapa siswa yang pergi wafatkanNya.

Kristus seperti domba, dianiaya, ditindas, dihajar bahkan juga kesusahannya melewati satu ekor domba yang dibawa ke pembantaian. Dia tidak berkeluh kesah. Dia pasrah. Dia tidak mengobral narasi. Satu kali lagi, Dia pasrah.

Bahan Khotbah Kristen – Seharusnya kalimat ini membuat kita berpikiran lagi. Kita harus menyaksikan jika itu Yesus Tuhan kita sebagai pusat semua hidup manusia.

Apa kita pantas kembali sakiti Ia dengan perilaku kita yang tidak ingin menanggung derita hingga melakukan perbuatan dosa. Apa kita pantas untuk kembali sakiti Ia dan sakiti hatiNya dengan membuat beberapa hal najis dalam kehidupan kita dengan tidak ingin jalan lurus dan memikul dan menanggung salib untuk Ia.

Apa kita akan balik mengejek dan menindas Ia dan pada akhirnya menyalibkan Ia dengan beragam skema perilaku dan pemecahan kita? Untuk kepuasan, posisi, gengsi dan kebesaran nama kita, haruskah kita menyalibkan Ia kembali karena hanya kita tidak ingin hidup menanggung derita dan melakukan perbuatan apakah yang diinginkanNya?

Begitu munafiknya kita. Begitu memilukan kondisi kita yang selalu menyebutkan Kristus Tuhan tapi sebetulnya kita tidak mengenalNya secara sungguh-sungguh. Kita cuman terobsesi dengan beragam model ceramah yang memikat dan penuh pernyataan

Share:

You may also like...

1 Response

  1. August 18, 2021

    […] Kristus Sebagai Pusat Penderitaan […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *